Jakarta 20080201
Mega mendung; kota terapung.
Duka merundung; istana terkepung.
Telaga meluap; manusia terlelap.
Air lepas tanpa batas.
Mega mendung; kota terapung.
Duka merundung; istana terkepung.
Telaga meluap; manusia terlelap.
Air lepas tanpa batas.
Jakarta tenggelam; Depok hanya becek. Lho?!
Mengapa bisa demikian? Jawabannya sangat sederhana sekali, dan orang seharusnya tahu tanpa perlu sekolah: “karena Depok bukan Jakarta, sehingga yang terjadi pada Depok tidak harus terjadi pada Jakarta.”.
Akan tetapi bukan itu jawaban yang saya inginkan; saya cukup yakin bahwa jawaban semacam itu juga tidak akan memuaskan orang lain yang rumahnya kebanjiran, apalagi jawaban itu diucapkan oleh pemerintah yang gemar bertindak diam-diam, saking diamnya sampai tindakannya tidak terlihat… atau memang tidak ada tindakan? (apa yang terlihat kalo gitu?), apalagi jawaban semacam itu diucapkan ke orang yang bersekolah…
Sekarang, banjir Jakarta jadi kebiasaan (atau sudah jadi tradisi? Persetan!); tiap tahun ada banjir, walaupun yang banjir daerah yang itu-itu aja. Nggak bosan ya? “Ya, begitulah!”, mengikut sopir taksi yang taksinya kemarin saya tumpangi.
Teman saya ada yang berkata, “Hujan kan mau ber-weekend juga…”. Nah, di sini banjir mau ngerayain tahun baru juga! Banjir bukan anggota keluargalu kan?! Ngapain diajak tahun baruan?! Lagipula, sesungguhnya orang-orang yang dikaruniai pengetahuan dan iman nggak bakal ngerayain tahun baru!
Udah capek kena banjir? Kayaknya nggak ada daerah yang nggak kena dampak banjir… entah itu jalanan atau perumahan.
Hidup capek kan? Makanya berdoa biar kiamat cepat datang. Tuhan mengetahui hal-hal semacam itu lho…
Kembali ke banjir.
Udah pernah mencoba berdoa ke Tuhan biar nggak kena banjir? Kecewa, karena doanya nggak dikabulin? Ya terang aja doanya nggak dikabulin! Buang sampah sembarangan! Bikin hunian di bantaran kali! Cari sendiri hal yang lain!
Apakah pemerintah tidak mampu, tidak sanggup, tidak mau, tidak bisa, atau tidak mungkin, atau malah sengaja menidakmungkinkan diri mengatasi masalah ini? Apakah pemerintah sengaja mendiamkan hal ini dengan tujuan mengusir warga Jakarta yang jumlahnya dirasa sudah terlalu banyak secara sangat halus, tersirat, dan mendalam?
Manusia Jakarta tidak berharga ya? Pemerintah sebagai pihak yang mengetahui seberapa berharganya manusia Jakarta seharusnya menunjukkan kepedulian yang sesuai.
“Ah bodo… yang penting rumah gue aman… mau rumahlu jadi tambak kek… urusanlu!“. Gitu?!
Asal tahu saja, jalan di dekat (ya nggak terlalu dekat sih…) rumah saya ada yang rusak parah. Saya akan mengatakan pada kemudian hari, seandainya jalan itu dibetulkan sebelum saya mati dan pemerintah masih seperti sekarang, bahwa yang membetulkan jalan itu bukan pemerintah; seandainya yang membetulkan jalan itu pemerintah, saya buang muka saja… pura-pura nggak tahu: “Heh, emang Indonesia tuh ada pemerintahnya ya?”
Saya sudah terlanjur kecewa, dan saya tahu saya akan dikecewakan lebih lanjut. Oleh karena itu, saya tidak terlalu berharap kepada pemerintah. Saya rasa saya tidak perlu menganggap mereka ada. Keberadaan saya di hadapan mereka toh cuma sebuah record di database komputer mereka yang memuat hal-hal yang tercetak di KTP saya. Record dihapus, saya dianggap hilang. Sederhana kan? Saya mati dengan cara sespektakuler apapun sampai dunia persilatan pecah-pecah kayak kulit jeruk juga pemerintah tak akan melayat kok… buat apa repot-repot?
Kembali ke banjir (dan hujan).
Bumi begitu luas… hujan yang terjadi di Jakarta hari ini sih kecil gancil gampil upil buat Bumi… lautan naik se-cm juga nggak kena hujan segitu. Tapi kok daratan banjir?!
Tau ah. Bingung. Jangan jawab pertanyaan itu. Sisakan beberapa pertanyaan buat Tuhan…
Either there is no miracles, or everything is a miracle.
Somebody said that miracles happen at all times. By the very definition of miracle, however, it is an absolutely necessary that an event is extremely rare in order for it to be somewhat eligible to be called a miracle; otherwise, it is not a miracle at all.
Everything used to be a miracle. However, as scientific theories are developed, many miracles are now historical. Nevertheless, regardless of how far we elaborate our theories of everything, there will always be at least one miracle, since we can always ask “Why is it so?” and since the answer “Because God wants it to be so.” is never satisfactory to the scientific community.
There is a miracle which occurs only once while is occurring at all times. That miracle is time itself. Time exists, at least within itself, only once, doesn’t it?
My conclusion is that we won’t run out of miracles.
SMS ialah kependekan Short Message Service, yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia kira-kira menjadi Layanan Pesan Singkat. Jelas bahwa kata singkat dalam frase itu menjelaskan kata pesan. Hal ini menyiratkan bahwa pesan yang dikirim menggunakan SMS ialah pesan yang singkat, semacam pesan yang dikirim menggunakan telegram, bukan pesan yang panjang.
Masyarakat yang dulu terbiasa mengirim pesan menggunakan surat, kini berkat kemajuan teknologi mulai mengirim pesan menggunakan SMS. Walaupun demikian, masyarakat masih terbiasa mengirim pesan-pesan panjang yang biasa dikirim menggunakan surat. Alhasil, alih-alih menghemat biaya, banyak kata dalam suatu pesan, oleh si pengirim, disingkat secara tak wajar tanpa memperhatikan kaidah berbahasa menjadi singkatan-singkatan yang sangat berpeluang membuat pembacanya bingung. Mungkin pesan tersebut masih bisa dipahami, tetapi tentunya tak sedap dipandang, apalagi dibaca. Layanan Pesan Singkat (Short Message Service) pun menjadi Layanan Pesan Singkatan, atau Layanan Pesan yang Dipersingkat (Shortened Message Service).
Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi karena masyarakat Indonesia telah mengenal cara lain menyingkat bahasa, yaitu dengan meringkas. Daripada menyingkat kata-kata, meningkatkan efisiensi bahasa (seperti dengan meringkas) jauh lebih baik.
Ketidakwajaran lain berbahasa dalam penggunaan SMS ialah kapitalisasi tak wajar, yaitu pencampuradukan huruf besar dan huruf kecil dalam suatu kata. Hal ini, selainkan menyulitkan pembaca, juga menyulitkan pengirim (dalam pengetikan pesan tersebut), namun entah mengapa, hal ini cukup marak di masyarakat, terutama kalangan anak muda.
“What’s in a name? That which we call a rose
By any other name would smell as sweet.”William Shakespeare, Romeo and Juliet (II, ii, 1-2)
http://www.enotes.com/shakespeare-quotes/what-s-name-that-which-we-call-rose (2008-01-11 18:15 UTC+7)
Alkisah, hiduplah sepasang suami istri di suatu desa. Suami istri itu punya anak; mereka memberi anak itu nama “Anak Tuhan”. Oleh orang-orang sekitar, anak itu dipanggil “Nak” atau, kalau anak itu terpaksa dipanggil, “Han”, atau “Tuh”, atau “Ituh” kalau anak itu sangat terpaksa dipanggil, karena semua orang desa itu tekun beragama dan bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Anak itu pun tumbuh dewasa. Ketika anak itu sudah tua, orang tuanya meninggal. Orang tuanya meninggalkan surat wasiat yang berbunyi:
Berikan harta kami kepada Tuhan.
Kontan penduduk desa bingung ketika membaca wasiat itu karena mereka belum pernah bertemu langsung dengan yang namanya Tuhan, kecuali si anak tadi yang dinamakan demikian, dan mereka tidak mau mengakui (memanggil) Si “Tuhan” dengan sebutan Tuhan.
Segenap penduduk desa itu pun berdoa kepada Tuhan mereka, meminta Tuhan mereka mengambil harta yang menjadi pergunjingan itu, tetapi Tuhan mereka tak kunjung muncul; harta itu pun tetap saja berada di situ, seolah-olah mengejek dan menertawakan penduduk desa yang berdoa.
“Mungkin harta ini harus dibakar karena dengan begitu harta ini bisa sampai ke langit,” kata seorang penduduk.
“Emang ada apa di langit? Kata siapa Tuhan ada di langit?” kata seorang penduduk lain.
“Udah, kasih aja harta ini ke si Ituh,” kata seorang penduduk lain sambil menunjuk Si “Tuhan”. (”Ituh” tuh panggilan akrabnya Si “Tuhan”.)
“Itu berarti mengakui Si ‘Tuhan’ sebagai Tuhan dong?” kata seorang lain.
Kericuhan terjadi di desa itu karena dilema tersebut. Diberi atau tak diberi ke Si “Tuhan”, harta itu tetap saja menjadi masalah segenap penduduk desa, ibarat buah simalakama.
Masalah yang lebih gawat lagi ialah saya, penulis cerita ini, juga bingung, bagaimana saya harus melanjutkan cerita ini? Oleh karena itu, saya akhiri cerita ini di sini.
Sekian. Biar Tuhan yang menyelesaikan sisanya.
TBL (Tim Berners-Lee, the inventor of the World Wide Web) once wished that URIs (Uniform Resource Identifiers) such as http://wordpress.com/tos had been written as http:com/wordpress/tos instead. Here’s an excerpt from http://www.w3.org/People/Berners-Lee/FAQ.html#etc, written by TBL himself:
[...] I have to say that now I regret that the syntax is so clumsy. I would like http://www.example.com/foo/bar/baz to be just written http:com/example/foo/bar/baz where the client would figure out that www.example.com existed and was the server to contact. But it is too late now. It turned out the shorthand “//www.example.com/foo/bar/baz” is rarely used and so we could dispense with the “//”.
I agree with him, but I would like to go a bit further. In my humble opinion, that address should have been written /net/http/com/example/www/foo/bar/baz instead. That might be too slashy (or even slashful?), but that is the tidiest URI format I would ever like to see.
Unix, anybody?
The IBM PC Keyboard is an example of bad design; a particular example is the A20 gate which has absolutely nothing to do with the keyboard, yet is tied to the controller. Nevertheless, this design can be tolerated twenty years ago. However, with today’s advancements in computing, this design cannot be tolerated at all.
The reason is clear: that design violates the intuition of any sane designer on this beloved Earth. For example, the keyboard controller plays a deciding role in the boot process, while in theory, a system does not need to have a keyboard in order to function.
Furthermore, some of the keyboard scan-codes (especially that of the Break key) don’t follow any recognisable pattern; this practice of hardware programmers’ making software programmers’ lives hell is an absolutely unforgivable sin in the world of computing.
Moreover, the PC keyboard has limited ability to manage simultaneous key-downs; the aforementioned unnecessarily horrifying scan-codes are there to blame. However, the PC keyboard wasn’t designed for simultaneous key-downs, so this limitation is not considered as a design flaw. Nonetheless, it is still desirable to have a keyboard which is able to handle (by design) the situation in which all keys of that keyboard are pressed instead of signalling the machine to beep.
The PC keyboard shall be redesigned from scratch.
A: (bersemangat) Eh, lu tau nggak, bintang film yang tiap kali bulan Ramadhan bekennya nggak ada yang ngalahin?
B: (penasaran) Gak tau. Emang ada?
A: Masa’ nggak tau sih lu? Pada bulan Ramadhan, dia nongol di setiap sinetron, di semua stasiun TV. Emang sih namanya nggak pernah ditulis di daftar pemain, tapi kan dia nongol di semua stasiun TV… apa nggak beken tuh namanya?
B: (makin penasaran) Siapa sih? Emang ada ya? (masih nggak percaya)
A: Itu lho, Si Allah…
B: Dasar lu!
Pernah denger kan, kalimat “Tanyalah kepada rumput yang bergoyang.”? Pernah mikir nggak, kenapa rumput, bergoyang lagi? Kenapa enggak batu yang menggelinding, banjir yang meluas, tanggul yang jebol, bukit yang longsor, gunung yang meletus, lumpur yang meluap, atau yang lain? (Hah… kok jadi kalabendu?)
Kenapa nggak batu yang menggelinding? Karena batu yang menggelinding nggelindingnya kecepetan, jadi mau ditanya udah lewat duluan. Boro-boro ngejawab pertanyaan kita, ngedenger aja dia nggak, saking cepetnya dia nggelinding. (Penting banget seh…)
Kenapa rumput yang bergoyang?
Kan gampang kalo kita nanya ke rumput—soalnya dia ada di mana-mana. Coba kita nanya ke batu yang nggelinding. Tiap kali mau nanya kita mesti ke gunung dulu, cari batu yang gede dan nggelindingnya kenceng, cari tebing, gelindingin tuh batu, terus nanya, kalo masih ada sisa tenaga.
Sotoy mode on…