dolar-latex dan kurungkotak-sourcecode di WordPress

Hmmm… ternyata WordPress bisa \LaTeX dan sourcecode.

Cari LaTeX
Cari code
di
http://support.wordpress.com/

e^{i \pi} = -1

int main () {
    return 0;
}

Nafsu! Gairah! Semangat! Hidup!

Lebaran

Here is a poem which is written in Python, concisely describing the situation of Lebaran in my domicile in an overly simplified manner.

def usual_day ():
    while hungry:
        eat()

def lebaran ():
    while there_is_food:
        eat()

Well, I’m sort of a programmer after all.

Dua Warta Gumbira

Hari ini, Kamis 17 September 2009, ada dua warta gumbira yang sangat menggumbirakan saya.

Pertama, GNU/Linux Debian ‘Lenny’ 5.0.3 berhasil diinstal di salah satu komputer di Ristek. Post ini dipost dari yang baru diinstal itu. Kita mulai mengganti jendela dengan pintu, eh, penguin. Diharapkan dengan datangnya benda yang lebih berkualitas ini walaupun terkadang melakukan blunder, produktivitas Ristek bisa meningkat. :-)

Kedua, saya udah punya nomor telepon `dia’ nih…
ha ha ha ha ha ha ha
sekasekasek.
Semakin dekat, semakin jauh…

Ihiy. :-D

Buku Catatan Arabophilus profundus Draf 1

Silakan pijit ini.

Gempa yang Kusyukuri

(Pada 2 September 2009 sekitar jam 3 sore WIB, gempa kecil terasa di Gedung C Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, tempat saya berada saat itu. Gempanya tidak seberapa, tetapi entah bagaimana kejadian tersebut menjadi suatu ilham bagi saya untuk mengabadikannya dalam puisi berikut.)

Gempa kecil, tak bisa diremehkan
Kuturuni anak-anak tangga
Kututupi kepalaku
Wahai langit, janganlah engkau runtuh
Wahai bumi, janganlah engkau terbelah

Penghuni gedung cerai berai
berlomba turun keluar ruangan
berhamburan keluar bangunan
Harta benda ditinggalkan;
apalah artinya dibanding nyawa

Gempa berlalu
Langit dan bumi masih terpisah
Syukurlah

Akan tetapi, aku lebih bersyukur lagi
Di antara orang-orang, kulihat dia
hidup, berdiri, bertutur, tertawa, di depanku,
meskipun, amat sangat kusesalkan, tanpa diriku
karena aku terlalu pengecut;
bahkan berbasa-basi “Kau tak apa?” pun aku tak sanggup
Lelaki macam apa aku ini?

Terima kasih, Tuhan,
Sekali lagi Kau izinkan aku menatap dia
ciptaan-Mu yang halus, rapi, anggun, mempesona
Terima kasih

Andai Kau ciptakan dia untukku

Erik D.T.
Depok, Rabu 2 September 2009

Proses Registrasi Akademik dengan Penjadualan Semi-otomatik – Working Draft 1

Pemicu: http://rms46.blogspot.com/2009/08/logika-penjadwalan-kuliah.html.

WordPress tidak bisa mengupload file .tar.gz… argh! Untungnya dia masih bisa mengupload .pdf.

Terima kasih untuk kesabaran Anda.

MD5SUMS

db0c486ae416cacf1a23ffaa5878bf32  kertasputih.pdf
9494f4886032fcd85393edebd3ee6f44  ajaib.tar.gz

Yang mau baca PDF-nya saja silakan kertasputih.

Yang mau lihat source code-nya silakan:

Read More »

IPA

IPA?
Ilmu Pengetahuan Alam? Ya itu dulu di SMA…
International Phonetic Alphabet? Ya bisa juga…
Ingin Punya Anak? Hm masih terlalu muda…
Ingin Punya A***? Hahahahaha… ada deh!
Impor Pantat Ayam? Mulai aneh… buat apa coba, pantat ayam diimpor-impor…
Indeks Prestasi Aumulatif? Apaan tuh!? Jangan maksa deh!

Hm… (sembari mengumpulkan kembali wibawa yang telah hancur minah, pecah belah ampe jadi bubuk) pada intinya sih saya ingin bicara bahwa dalam blog ini, IPA ialah “Ilmu Pengetahuan Aneh”, suatu kategori yang dibuat hari ini untuk menampung macam-macam pengetahuan saya, dan pengetahuannya terkadang agak kurang penting, tapi lumayanlah buat hiburan. Tentunya semua yang masuk kategori itu akan ditulis dalam Bahasa Indonesia; judulnya aja udah dalam Bahasa Indonesia, walaupun Bahasa Indonesia yang saya gunakan mungkin bukan Bahasa Indonesia yang baik, benar, resmi, direstui, atau apalah.

Sudah ada kategori “Pentingkah?” yang juga memuat hal-hal yang kurang penting. Apa bedanya?

Begini bedanya, pembaca yang budiman. “IPA” biasanya memuat hasil pengamatan yang saya lakukan dan rasakan ada sedikit unsur ilmiah di situ, walaupun ilmunya ngawur. “Pentingkah?” biasanya menceritakan kejadian, biasanya digabung dengan “Catatan Kehidupan”. “IPA” dan “Pentingkah?” bisa juga digabung; itu berarti dalam suatu tulisan, ada unsur ilmu pengetahuan dan menceritakan pengalaman.

Oke. Tulisan ini sekaligus menjadi pembuka kategori ini.
Tetap memelintir bahasa serta membumbui fakta dengan dusta.
Semoga jenaka.

Geometri Sebuah Büstenhalter

Ada yang nggak tau büstenhalter itu apa? Itu loh, yang biasa disingkat BH … tau kan? Yang buat nyangga dada perempuan itu loh. Apa? Iya saya ini laki-laki dan akan tetap laki-laki kok… tenang aja.

Begini ceritanya. Tadi pagi, saya ketemu sebuah (atau sepasang? Dada perempuan ada berapa? Hahahahaha) BH nganggur di kasur. Saya maenin deh. Teksturnya lumayan halus, lembut, dan delicate. Sayang, dia diem aja, nggak mbales. Kecewa! Hahahahaha.

Nah, pas lagi maenan BH itulah saya teringat sesuatu. Sepertinya bentuk BH itu suatu hyperboloid of two sheets.

Hikmah kisah yang agak ngawur ini adalah kita bisa mengotomatisasi pembuatan BH menggunakan mesin (tentunya ada komputernya). Dengan produksi massal BH, harga BH mungkin bisa turun kali ya? Saya nggak pernah belanja BH jadi nggak tau harganya… hahahahaha. Saya ngomong gitu kesannya seolah-olah BH itu benda yang bisa busuk seperti makanan, mesti dibeli tiap hari… hahahahaha.

Ngomong-ngomong, uang kosmetik itu sepertinya beradu deh dengan uang rokok… mana yang lebih tinggi ya? Coba diteliti. Bagaimana soal perempuan yang merokok? Hmmm… udah perlu dandan, perlu rokok pula… uang mengalir seperti air…

Sebenarnya dandan itu nggak perlu. Nggak dandan nggak bikin mati kok; keluar rumah nggak dandan juga nggak bikin mati. Akan tetapi entah kenapa sejak saya lahir sampai sekarang, yang namanya perempuan udah gede kalau mau keluar-keluar tuh biasanya (kalo nggak selalu) dandan dulu. Kelihatannya kok seperti menghabiskan uang, waktu, dan tenaga…

“Ah, lu laki-laki gak bakal ngerti perempuan!”

Hahahahaha… kita emang beda sih. Laki-laki berhak dandan juga, cuma kok saya serem ya ngeliat laki-laki pake gincu, bedak, dan lain-lain ampe keliatan menor atau kemayu gitu… hiiih… tapi terkadang ada juga sih laki-laki yang cantik, bisa kesaru ‘ama perempuan… hahahahaha.

“Ah, lu perempuan gak bakal ngerti laki-laki!”

Hahahahaha… kita emang beda sih… lagi. Terkadang saya ngeliat perempuan yang nggak dandan. Lumayan teduh juga; kayaknya make-up tuh bikin gerah banget ya, kayak di atas kulit ada kulit lagi. Saat Jakarta lagi saking panasnya ampe laki-laki berlomba-lomba buka baju, perempuan malah nambahin kulit selapis lagi… hebat bener euy…

Menghadapi Nyamuk

Tak perlu semprotan. Tak perlu bahan-bahan beracun. Tak perlu raket listrik. Tak perlu jebakan serangga. Tak perlu teknologi yang berat-berat.

Teknologi yang digunakan cukup Anda, kedua tangan Anda, dan hasrat membunuh (killing intent). Setelah beberapa ribu tahun, kemampuan umat manusia dalam hal bunuh membunuh sepertinya menjadi sedikit tumpul. Eit, bukan berarti saya mempromosikan pembunuhan lho!

Harap dibedakan ya to kill dan to murder.

Electromagnetic Influence! Huzzah!

My radio has three receivers: FM (Frequency Modulation), MW (Medium Wave), and SW (Short Wave). I switched the radio to the MW receiver. I pulled the antenna out to its maximum length. I put the radio near the CRT (Cathode Ray Tube) monitor. I heard a buzz. That was an electromagnetic noise!

I set the volume of the radio to the max. I turned on a lamp nearby. I heard a burst on the radio. That was an electromagnetic pulse!

Pulse, wave, and noise are different faces of the same thing. Each of them can be mathematically described using one function which takes one time argument.

I felt as if I had met Maxwell (James Clerk Maxwell, 1831-1879) (and perhaps Hertz (Heinrich Hertz, 1857-1894) who showed the presence of this electromagnetic influence; I call the phenomenon ‘electromagnetic influence’ because something influences something else (but it is possible that it also influences itself), allegedly by means of electromagnetism). I felt as if I had somehow sympathised with Maxwell’s challenges when he was formulating the theory of electromagnetism in such a way that it could be comprehended by people who swung their AM radio near things only to hear a buzz and became excited for no apparent reason, like me.

Well, what can I say? I don’t really know electromagnetism; I only believe it or use it until there is sufficient reason for me to move to another theory. But I think this can be used to introduce electromagnetism to children since they aren’t really suited for abstract reasoning. What the hell is abstract reasoning, anyway? Well, I’m just trying to look cool; that’s all. Can’t I?

Let me live!