(Pada 2 September 2009 sekitar jam 3 sore WIB, gempa kecil terasa di Gedung C Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, tempat saya berada saat itu. Gempanya tidak seberapa, tetapi entah bagaimana kejadian tersebut menjadi suatu ilham bagi saya untuk mengabadikannya dalam puisi berikut.)
Gempa kecil, tak bisa diremehkan
Kuturuni anak-anak tangga
Kututupi kepalaku
Wahai langit, janganlah engkau runtuh
Wahai bumi, janganlah engkau terbelah
Penghuni gedung cerai berai
berlomba turun keluar ruangan
berhamburan keluar bangunan
Harta benda ditinggalkan;
apalah artinya dibanding nyawa
Gempa berlalu
Langit dan bumi masih terpisah
Syukurlah
Akan tetapi, aku lebih bersyukur lagi
Di antara orang-orang, kulihat dia
hidup, berdiri, bertutur, tertawa, di depanku,
meskipun, amat sangat kusesalkan, tanpa diriku
karena aku terlalu pengecut;
bahkan berbasa-basi “Kau tak apa?” pun aku tak sanggup
Lelaki macam apa aku ini?
Terima kasih, Tuhan,
Sekali lagi Kau izinkan aku menatap dia
ciptaan-Mu yang halus, rapi, anggun, mempesona
Terima kasih
Andai Kau ciptakan dia untukku
Erik D.T.
Depok, Rabu 2 September 2009