“Serahkan harta kalian pada kami. Kembalikan semua yang sudah kau ambil dari kami. Serahkan semua emas, perak, berlian, minyak, kekayaan alam, uang, semua perusahaan, tambang, harta kalian pada kami, atau pergi dari sini,” kata seorang Indonesia.
“Nggak bisa gitu dong. Negeri saya adalah negeri yang menganut paham kebebasan,” kata seorang penjajah yang sudah bisa ditebak asalnya.
“Kamu sekarang ada di negeri saya. Persetan dengan negerimu. Kami ini memang bangsa bodoh, bajingan, keparat, perampok, pencuri, penjiplak, pengancam, penghina, pezinah, tetapi kami jujur; inilah kami, berjalan ke mana-mana tanpa topeng, tidak seperti bangsamu yang maju, beradab, tenteram, menghargai hak orang lain, tetapi penuh dusta.”
“Negeri saya tak akan tinggal diam.”
“Kamu tuli?”
“Tidak.”
“Maka mendengarlah! Yang sudah mendengar hendaknya mengerti!”
Kita seharusnya begitu! Kita tetap menjamu bangsa lain dengan seramah-ramahnya, walaupun itu melukai bangsa kita sendiri. Bangsa lain pun tak lebih baik; mereka menuai di ladang yang tak mereka garap.
Pengunjung yang bilang “Indonesia negeri yang indah…” pasti cuma keliling-keliling tempat wisata doang. Coba ajak keliling ke rel kereta, kolong jembatan, pinggir kali. Masih bisa dia ngomong begitu?
Emang ada apa di pinggir kali? Ada kodok mencari makan.