Category Archives: Sastra

Buku Catatan Arabophilus profundus Draf 1

Silakan pijit ini.

Gempa yang Kusyukuri

(Pada 2 September 2009 sekitar jam 3 sore WIB, gempa kecil terasa di Gedung C Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, tempat saya berada saat itu. Gempanya tidak seberapa, tetapi entah bagaimana kejadian tersebut menjadi suatu ilham bagi saya untuk mengabadikannya dalam puisi berikut.) Gempa kecil, tak bisa diremehkan Kuturuni anak-anak tangga Kututupi kepalaku Wahai langit, [...]

Leher yang Kaku

O Indonesia, betapa kaku lehermu telah menjadi karena terus-terusan melihat ke Barat. Sekali-kali lihatlah ke Timur, ke Utara, ke Selatan! Untuk apa ada mereka, kalau kau hanya melihat ke Barat? Hidup itu tidak hanya di Barat! Teman itu tidak hanya orang Barat! Bahkan, apa kau yakin orang Barat itu teman? Mana Barat, mana Timur? Yang [...]

Bangsaku Seharusnya Begini!

“Serahkan harta kalian pada kami. Kembalikan semua yang sudah kau ambil dari kami. Serahkan semua emas, perak, berlian, minyak, kekayaan alam, uang, semua perusahaan, tambang, harta kalian pada kami, atau pergi dari sini,” kata seorang Indonesia. “Nggak bisa gitu dong. Negeri saya adalah negeri yang menganut paham kebebasan,” kata seorang penjajah yang sudah bisa ditebak [...]

Nyastra, Nyeni, Nyelonong

Apalah artinya pengunjung, jika ia tak membaca? Ya tentunya itu buat pengunjung blog, bukan pengunjung bar, diskotik, rumah bordil, dan lain-lain, walaupun mereka tak terlalu berhubungan. Ih… akhir-akhir ini kok tiba-tiba saya jadi sok puitis ya, suka masuk-masukin prosa atau puisi ke posts saya? Yaaa, nikmati sajalah kenorakan dan ke-gedhe-rumangsa-an saya ini. Seharusnya barang-barang ini [...]

Di Ambang Batas

Tak semudah itu aku membencimu; tak semudah itu juga aku mengampunimu. Aku selalu memaafkanmu, mengingatkanmu, mengajarimu, tetapi kini sudah tak bisa lagi; aku selalu mencoba melihat kebenaranmu, ketulusanmu, kesetiaanmu; di mana? Kesalahanmu, kebejatanmu, kekejianmu? Di mana-mana! Musnah sajalah kau! Bawa semua dosamu ke neraka! Cukup sekian nista di sini!

Jakarta, 2008 Februari 1

Mega mendung; kota terapung. Duka merundung; istana terkepung. Telaga meluap; manusia terlelap. Air lepas tanpa batas.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.